Aku masih belum merdeka

Genre: Novel Islami
Penulis: Ahmad Hakam Al Faqih
Tebal: 103 Hlm, A5
Harga: Rp 35.000
Order: Jumlah order_Alamat lengkap ke SMS/WA 085815185591 

Sinopsis :
Apa aku adalah seorang budak, Mas Bram?
Tidak, Lisa! Kau adalah putri Bapak-Ibumu. Kau adalah hal yang berharga bagi orangtuamu, Lisa.
Tidak, Mas Bram! Aku adalah benar-benar budak! Kalau aku bukan budak, kenapa aku tidak boleh memiliki harapan dan cita-cita sendiri? Jawab Lisa dengan wajah yang basah dengan air mata, isak tangisnya pun sudah tak beraturan, menandakan rasa sakit yang luar biasa. Ia merasa tak berharga sekali di mata orangtuanya, ia merasa kebahagiaannya dan kejelitaannya sebagai wanita dijual demi mendapatkan kekayaan untuk memperlancar visi-misi orangtuanya. Memang sungguh ironi, tapi begitulah kenyataannya.

Rumah yang berada di pojok gang buntu itu sepertinya belum merdeka, meski rumahnya berada di tengah-tengah negara yang merdeka. Padahal bentuk rumahnya pun lumayan megah dan dikelilingi perekonomian yang cukup. Tapi Bram mengira seperti itu ketika dia melihat Felisa yang gelisah dan murung, di balik gemerlap kemewahan ia tak gembira. Itu sangat aneh.

Sepasang mata tanpa kekasih

Sepasang mata tanpa kekasih
Dilahirkan dengan selamat
Oleh malam dan sepi

berlari ia tanpa batas
Menemui apa saja yang diinginkan
Dari pertikaian komunitas berdasi
Sampai kemunafikan kaum bersorban
Bahkan kisah asmara berpola segitiga

Sepasang mata tanpa kekasih
Bermain-main bebas dengan gembira
Berputar-putar di taman duniawi
Melompat – lompat sangat bahagia

Pulang-pulang ia menangis
Tersandung dosanya sendiri
Kemudian terlelap di pelukan malam dan sepi

​NU mojokerto, tentara Hizbullah dan kiai nawawi

Salah satu kiai dalam barisan sabilillah mojokerto yang di kawal oleh kiai achyat chalimi ketika tentara belanda makin merangsak masuk ke mojokerto adalah KH nawawi. KH nawawi di dusun les padangan desa terusa kabupaten mojokerto pada tahun 1886. Beliau pernah nyantri kepada syeikh hasyim asy’ari di pondok pesantren tebuireng jombang. KH qosim siwalan panji buduran sidoarjo, KH sholeh mojosari, KH zainuddin mojosari nganjuk dan syeikh kholil bangkalan. Beliau aktif dalam NU di mojokerto pada tahun 1928, dan menjadi komandan bangkalan. Beliau aktif dalam sabilillah dan turun langsung memimpin pergerakan melawan penjajah diwilayah pergerakannya yakni mojokerto, kedamean gresik, sepanjang dan sukodono sidoarjo. Sebelumnya, ketika perang di surabaya berkobar, walikota surabaya radjiman nasution datang ke marakas hizbullah mojokerto mengajak para kiai untuk turut bertempur di garis depan. Saat itu juga, beliau menyanggupi dan siap turut serta. Kesanggupannya kemudian di ikuti kiai mansur, kiai abdul jabar, kiai ridwan dan lain sebagainya. Sewaktu pertempuran di surabaya, para kiai mojokerto di bawah komando KH hasan basri dari sukabumi bermarkas di daerah kedungsari. Selama pertempuran, kiai nawawi tetap berada di front pertahanan kletek sidoarjo yang merupakan pertahanan RI di selatan sungai mas, bersama hizbullah sidoarjo pimpinam amir effendi dan samiun somadi. Selain kiai nawawi, di front itu juga ada KH hasan basri bersama anggota barisan sabilillah. Di front kletek itu, KH hasan basri tertangkap oleh musuh, namun kiai nawawi tetep menjaga semangat tempur Hizbullah (pemkot mojokerto, 2012). Namun, dalam pertempuran di sumantoro pada 22 agustus 1946, dalam rangka membantu pertempuran hizbullah dengan tentara belanda di selatan jembatan sukodono, kiai nawawi gugur sebagau syuhada’ setelah terdesak oleh tentara belanda yang memang mengincar kiai nawawi. Sebenarnya dalam kondisi terdesak, kiai nawawi tetap melawan dengan mengayun-ngayunkan payungnya, akan tetap tentara belanda yang mengkroyoknya akhirnya menghujamkan sangkur bayonet kepadanya hingga empat tusukan. Sebelum tentara belanda membawa jenazahnya, pasukan hisbullah berhasil menghabisi tentara belanda dan menyelamatkan jenazah kiai nawawi dan membawanya ke mojokerto kemudian dikebumikan di makam mangunrejo losari.


SEPENGGAL KISAH KH ACHYAT CHALIMY

Kekuatan laskar hizbullah ini menjadi unsur penting dalam pertahanan di mojokerto, ibu kota jawa timur darurat ketika surabaya direbut sekutu dan belanda. Saat itu, mojokerto kenjadi basis utama laskar Hizbullah dan badan ketentaraan lainya. Ketika surabaya telah di kuasai belanda, mojokerto menjadi markas utama garis depan pertempuran. Bahkan sejak 1 desember 1945, pemerintahan jawa timur dan juga karisidenan surabaya di pindahkan di sepanjang dan akhirnya di mojokerto. Hampir semua badan-badan perjungan juga turut pindah. Pengungsian penduduk surabaya juga besar-besaran ke mojokerto. Pada 19 februari 1946, presiden sukarno datang kemojokerto dan menyampaikan pidato jika rakyat jawa timur telah berbulat tekat untuk berdiri di belakang republik indonesia dan siap berjuang mempertahankannya sampai titik darah penghabisan(ralybu,1953: 250).
Di mojokerto, para santri tebuireng menjadi motor penggeraknya, sperti KH.munasir Ali dan KH achyat chalimy pasca pelatihan di cibarusah, laskar Hizbulloh mojokerto dibentuk dengan personil Masyur sholihi (ketua), munasir Ali (wakil ketua), samsumadyan, achyat halimy, mahfudz, muridan,sholeh yasin, ahmad khotib dan ahmad efendi. Hizbullah mojokerto segera mengadakan pelatihan di rumah H. Halimy (orang tua achyat halimy) dan dalam satu bulan sudah melatih  sekitar 2000 orang. Batalyon 1 di pimpin manshur sholihi dari anshor kecamatan gedek, batalyon ll di pimpin munasir Ali dari Anshor mojosari, dan kompi khusu di pimpin oleh achyat halimy yang tugasnya mengawal para ulama’ di barisan sabilillah (ayuhannafiq, 2013: 31).
KH munasir Ali di lahirkan di daerah modopuro, mojosari, mojokerto pada 2 maret 1919 dari seorang ayah bernama H.Ali . Selama perang kemerdekaan meletus kiai munasir aktif sebagai seorang pejuang dan berkarir di dunia kemiliteran. Karirnya di mulai dengan mengikuti kemiliteran prajurit jepang dengan masuk sebagai anggota heiho. Aktif sebagai pasukan Hizbullah dengan menjadi komando batalyon condromowo dan turut andil dalam mendirikan Hizbullah cabang mojokerto. Dan ketika itu Hizbullah melebur ke dalam TNI, kiai munasir juga terdaftar sebagai anggota aktif, sehingga dirinya di angkat sebagai komandan batalyon 39 TNI AD. Di akhir hayatnya pada 1 januari 2002 pelbagai penghargaan pernah diberikan kepadanya mulai setya lentjana peristiwa perang kemerdekaan l dan ll, bintang gerilya dan lain sebagainya.
Teman sekamar KH munasir selama nyantri di tebuireng di jombang adalah KH achyat halimy, dilahirkan pada tahun 1918, dari pasangan suami istri Hj. Marfu’ah binti Ali dan H. Abd Halim dari gedek desa miji. Masa kecil KH achyat halimy beserta kakak kandungnya KH Aslan dijalani di kota mojokerto . Setelah lulus di sekolah rakyat miji (sekarang SD miji 1), mereka melanjutkan sekolahnya ke pondok pesantren tebuireng jombang. Mereka belajar langsung kepada Syekh Hasyim Asy’ari, dan putranya KH Wahid hasyim, bahkan karna usianya hampir sebaya, KH Wahid hasyim selain berperan sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam melakukan berbagai diskusi, serta dalam satu barisan perjuangan di masa proklamasi kemerdekaan. Ia juga sering mengaji kepada KH Romly di rejoso, peterongan, jombang.
KH achyat halimy pernah terpilih sebagai anggota konstituante (semacam MPR) di jakarta, yaitu pada masa berlakunya UUDS RI Tahun 1950, tetapi tugas ini hanya di jalani sekitar dua tahun. KH achyat chalimy mengajukan pengunduran diri dari anggotan konstituante, karena merasa ini bukan maqom atau bidang keahliannya. Keadaan sulit ini, mengingatkan KH achyat chalimy pada pesan KH ahmad basyari sukanegara cianjur (santri tebuireng, guru presiden sukarno); “sopo wonge ziarah wali songo sarono urut-urut, insya’allah oleh barokahe walisongo” (barang siapa yang mau berziarah ke makam walisongo secara berurutan, insya’allah akan mendapat barokah dari walisongo). KH achyat chalimy pun berangkat ziarah ke walisongo dengan menggunakan kendaraan apa saja, dengan bekal uang hasil penjualan gelang istrinya hampir satu bulan lebih. Khirnya beliau mendapat pesan dari syekh hasyim asy’ari “bareng aku hidmatul ilmi, mongko opo wae hasil kabeh”. Setelah perang selsai, beliau aktif mengasuh pondok pesantren sabilul muttqin mojokerto.

IBLIS PUN BELAJAR 

Suatu ketika, sesosok iblis yang berusia paruh baya bertempat tinggal disalah satu desa yang berada dilereng gunug dan menjadi tempat perkampungan terakhir pula sebelum hutan belantara, ia ditugaskan untuk memecah belah umat manusia, menyelewengkan ritual-ritual akbar yang kerap di gelar di desa tersebut. penylewengannya mulai dari yang berpengetahuan menyembah pengetahuannya sendiri, yang suci mengagung2kan kesuciannya sendiri, yang kaya menyembah2 harta, yang berkuasa menghamba pada kekuasaan hingga manusia betul-betul terpecah-pecah dan pisah-pisah yang kemudian banyak melahirkan makhluk-makhluk kesepian, mudah berkecil hati, mudah putus asa dan licik di desa lereng gunung tersebut. Belum cukup sampai disitu, iblis pun terus belajar seiring perkembangan zaman dan teknologi, ia terus berijtihad dalam hal menjelma/berkamuflase dan cara memanipulasi yang canggih dengan tujuan agar manusia lupa, tertipu bahkan kehilangan dzat dari pada tuhannya sendiri selama hidupnya.
setelah musyawaroh akbar tahun ini, iblis pun menyepakati cara dan metode yang terbaik dan termudah untuk menghancurkan umat manusia di masa kini, yaitu dengan agama dan teknologi. Iblis pun terus belajar dengan istiqomah agar menguasai teknologi dan agama supaya mengerti kelemahan agama dan tau kelebihan dari teknologi. 

Di desa lereng gunung, iblis berada satu langkah lebih maju, dan itu akan menjadi masalah besar jika manusia sudah mulai acuh dan tak peduli akan hal ini.

Berawal dari desa lereng gunung sebagai tempat uji coba, jika desa tersebut dapat di hancurkan dan di pecah belah dengan menggunakan agama dan teknologi, maka tidak menutup kemungkinan seluruh desa dimuka bumi ini pula akan di perlakukan sperti itu oleh iblis. Jika manusia enggan terus belajar, manusia akan segera hancur terpecah belah, sebab iblis pun belajar dengan dan terus menggali tentang cara jitu menghancurkan dan memecah belah umat manusia.

Bila

​Bila cita cita bersandar atas dasar angin, ia tak pernah tentu arah,

Bila bersandar kepada pengetahuan, ia tak ada ujung,

Bila bersandar pada keyakinan, ia rawan buta,

Kemana manusia akan berjalan?

berlayar tanpa kompas, mencari daratan yang tak pernah ia ketahui…


Kediri 7.4.17